Langsung ke konten utama

Postingan

Yang Abadi Adalah Pak Sapardi

Patah hati bagiku, tidak selalu kamu subjeknya. Kadang melihat ketidakadilan, beberapa kali menemui yang kelaparan, dan hari ini mengetahui pak Sapardi menuju keabadian. Mencintai sajak, syair, puisi dan karya sastra lain hanyalah bagian dalam mencintai pak Sapardi. Sebelum kata 'hujan' rutin dijadikan objek sajak anak-anak 'indie' pun, pak Sapardi telah melahirkan karya yang sangat indah dan jauh dari kata alay dengan penggunaan kata 'hujan' nya. Benar-benar sangat indah nan megah. Serupa tetesan hujan yang menyapa kekasihnya pada bulan Juni, "Hujan Bulan Juni" -nya sangat damai. Apapun kata yang digunakan oleh pak Sapardi, tidak pernah gagal melahirkan keindahan. Tidak aku temui satu baitpun yang membuat mual, selalu aku berujung dengan mulut menganga karena tak dapat menebak komposisi pena pak Sapardi. Segala yang ditulisnya, adalah mahakarya. Bahkan penyair sekelas Jokpin pun terlahir karena membaca karya-karya luar biasa milknya. Kini, selamat jal...
Postingan terbaru

Di Ujung Hari yang Basah

Oleh : Ranyzee Kereta Lodaya berhenti di depanku, aku langsung naik berdesakan dengan penumpang lain yang sibuk mencari tempat duduknya. Di sebelah kursiku, seorang pria berusia sekitar 20-an akhir sedang duduk menatap bosan ke luar jendela. "Permisi mas," aku duduk dan dia menoleh diikuti anggukan kecil. Tidak ada yang spesial, di tengah perjalanan ia memperkenalkan diri dan kami mengobrol ringan. Kereta ini sangat sepi, mungkin karena belum musim liburan. Di seberang kanan kursiku, seorang lelaki paruh baya tertidur dengan koran menutupi wajahnya. Sekilas terlihat biasa saja, seolah dia hanya kelelahan dengan perjalanan yang panjang. Aku terus memperhatikannya diam-diam, bagian bawah sepatunya berlumpur dan aku tidak yakin dia benar sedang tertidur di balik korannya. Pak tua di seberang kanan kursiku bangun, melipat korannya dan merapikan barang bawaannya; sekantong kresek hitam yang berlapis-lapis dan sedikit basah, mungkin dia kehujanan sebelum naik ke kereta ini. Beberap...

Setidaknya

Setidaknya dapat ku simpan, Dalam wujud kenangan. Ketika obrolan tak rela mati, Ombak tak henti-hentinya bernyanyi, Benda langit tak sengaja membumi, Tubuh menjerit menggigil, telah ku abaikan. Mencoba menjadi arloji tak ada arti, Tak ada alasan lain, tolong kau jangan suri. Mati, mati sajalah terus. Dalam kisahmu, yang dipertanyakan orang-orang.. Tanpa pernah tersingkap misterinya. Biarkan tetap rahasia. Karena aku, hanya Sally Yogyakarta

Kotaku Tak Layak Huni?

Tak tertampik, jalanan memang penuh sampah. Hari ini, bertemu polusi lebih mudah daripada menemuimu. Tak perlu mencari kemanapun, ‘ia’ ada dimana-mana. Anak-anak rusak, terus mengendus sesuatu di balik kaos kedodorannya, kadang mereka frontal menggunakan plastik. Mengerti apa yang mereka endus, kan? Klise. Hidup di kota memang sangat keras. Tapi apa kalian mengerti mengapa mereka lebih sibuk mengendus daripada belajar? Di usianya yang masih dini, bermain pun tak lagi halal. Semua karena kerakusan si pemilik akses, tentu saja. Pernah aku dan seorang teman berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot 121 untuk pulang ke rumah. Tak lama, seorang anak dengan tubuh kurus kering dan kaos oblong khas ‘golongannya’ mendekati kami meminta uang. Angin membongkar habis rahasianya. Di atas bahu rapuh yang gemetar itu, ia simpan penyambung hidupnya. Aku terkejut dan segera memberinya uang. Namun temanku lebih merasa penasaran. “Kau dapat uang dari orang-orang, bukannya membeli makanan m...

Ijinkan Dia Kepadaku

Ada, sepasang paha yang menjadi bantalku Dia ku pinjam tanpa rasa malu Ingkari janji masa lalu untuk bertemu Aku setidak tahu diri itu Rusak, patah, hancur jalinan lamaku Impian kecilku berubah semu Yang aku tahu kini hanya rindu Atas mata hangatnya yang menatapku Nanar aku ketika tau cintanya tak hanya untukku Tapi tetap, dia mendominasi hati dan pikiranku Oleh sebab itu, ijinkan dia kepadaku. Medan,