Langsung ke konten utama

Kotaku Tak Layak Huni?

Tak tertampik, jalanan memang penuh sampah. Hari ini, bertemu polusi lebih mudah daripada menemuimu. Tak perlu mencari kemanapun, ‘ia’ ada dimana-mana. Anak-anak rusak, terus mengendus sesuatu di balik kaos kedodorannya, kadang mereka frontal menggunakan plastik. Mengerti apa yang mereka endus, kan? Klise. Hidup di kota memang sangat keras.

Tapi apa kalian mengerti mengapa mereka lebih sibuk mengendus daripada belajar? Di usianya yang masih dini, bermain pun tak lagi halal. Semua karena kerakusan si pemilik akses, tentu saja.

Pernah aku dan seorang teman berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot 121 untuk pulang ke rumah. Tak lama, seorang anak dengan tubuh kurus kering dan kaos oblong khas ‘golongannya’ mendekati kami meminta uang. Angin membongkar habis rahasianya. Di atas bahu rapuh yang gemetar itu, ia simpan penyambung hidupnya. Aku terkejut dan segera memberinya uang. Namun temanku lebih merasa penasaran.

“Kau dapat uang dari orang-orang, bukannya membeli makanan malah beli ini?” Anak itu menatap temanku dengan emosi yang tertahan. Matanya kemudian berkaca-kaca. Aku tersayat melihat itu. Saat seusianya, aku bahkan tak tahu bagaimana caranya menyapu rumah.

“Lebih banyak tangan yang mengusirku daripada yang memberi uang. Mana cukup untuk hidup normal. Ini murah dan ampuh untuk tidak merasa lapar.” Dia menunjuk sesuatu di atas bahu kirinya itu kemudian berlalu setelah mengucapkan terimakasih.

Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Kita hanya membuncit bersama dalam alasan yang berbeda, yaitu memakan yang batil dan kehilangan yang memang  hak. Satu persatu temanku keluar masuk penjara, tertahan di panti rehabilitasi, parahnya banyak dari mereka bahkan hilang tak pernah ku dengar kabarnya lagi. Entah kehidupan keras bagaimana yang mereka jalani.

Katanya kotaku hari ini tak layak huni. Namun memang benar, jalanan berlubang di sana-sini, tumpukan sampah di setiap sudut, kadang berani ‘mereka’ hijrah ke jalan raya. Memangkas habis nilai seni dan keunikan khas yang dulu selalu berhasil menarik pengunjung dari berbagai negara. Banjir yang tak pernah usai, walau pembangunan drainase terus berjalan sepanjang tahun. Semua seolah mati. Orang-orang hidup bagai zombie. Aku bahkan lupa hijaunya rumput di lapangan bola atau jernihnya air sungai di belakang rumah. Kini, airnya bahkan menyerupai kopi.

Walau kotaku hari ini tak layak huni, aku pertama kali jatuh hati di sini. Anak-anakku masih harus belajar budayanya. Entah masa kecil bagaimana yang akan mereka jalani nanti, jika hidup dan tumbuh di kota ini. Tapi walau  ‘kau’ telah divonis mati, aku berharap ini hanya mati suri. Semoga para ‘dokter’ itu segera tertampar melihatmu dan mengembalikan detak jantungmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Abadi Adalah Pak Sapardi

Patah hati bagiku, tidak selalu kamu subjeknya. Kadang melihat ketidakadilan, beberapa kali menemui yang kelaparan, dan hari ini mengetahui pak Sapardi menuju keabadian. Mencintai sajak, syair, puisi dan karya sastra lain hanyalah bagian dalam mencintai pak Sapardi. Sebelum kata 'hujan' rutin dijadikan objek sajak anak-anak 'indie' pun, pak Sapardi telah melahirkan karya yang sangat indah dan jauh dari kata alay dengan penggunaan kata 'hujan' nya. Benar-benar sangat indah nan megah. Serupa tetesan hujan yang menyapa kekasihnya pada bulan Juni, "Hujan Bulan Juni" -nya sangat damai. Apapun kata yang digunakan oleh pak Sapardi, tidak pernah gagal melahirkan keindahan. Tidak aku temui satu baitpun yang membuat mual, selalu aku berujung dengan mulut menganga karena tak dapat menebak komposisi pena pak Sapardi. Segala yang ditulisnya, adalah mahakarya. Bahkan penyair sekelas Jokpin pun terlahir karena membaca karya-karya luar biasa milknya. Kini, selamat jal...

Di Ujung Hari yang Basah

Oleh : Ranyzee Kereta Lodaya berhenti di depanku, aku langsung naik berdesakan dengan penumpang lain yang sibuk mencari tempat duduknya. Di sebelah kursiku, seorang pria berusia sekitar 20-an akhir sedang duduk menatap bosan ke luar jendela. "Permisi mas," aku duduk dan dia menoleh diikuti anggukan kecil. Tidak ada yang spesial, di tengah perjalanan ia memperkenalkan diri dan kami mengobrol ringan. Kereta ini sangat sepi, mungkin karena belum musim liburan. Di seberang kanan kursiku, seorang lelaki paruh baya tertidur dengan koran menutupi wajahnya. Sekilas terlihat biasa saja, seolah dia hanya kelelahan dengan perjalanan yang panjang. Aku terus memperhatikannya diam-diam, bagian bawah sepatunya berlumpur dan aku tidak yakin dia benar sedang tertidur di balik korannya. Pak tua di seberang kanan kursiku bangun, melipat korannya dan merapikan barang bawaannya; sekantong kresek hitam yang berlapis-lapis dan sedikit basah, mungkin dia kehujanan sebelum naik ke kereta ini. Beberap...

Ijinkan Dia Kepadaku

Ada, sepasang paha yang menjadi bantalku Dia ku pinjam tanpa rasa malu Ingkari janji masa lalu untuk bertemu Aku setidak tahu diri itu Rusak, patah, hancur jalinan lamaku Impian kecilku berubah semu Yang aku tahu kini hanya rindu Atas mata hangatnya yang menatapku Nanar aku ketika tau cintanya tak hanya untukku Tapi tetap, dia mendominasi hati dan pikiranku Oleh sebab itu, ijinkan dia kepadaku. Medan,