Langsung ke konten utama

Di Ujung Hari yang Basah

Oleh : Ranyzee

Kereta Lodaya berhenti di depanku, aku langsung naik berdesakan dengan penumpang lain yang sibuk mencari tempat duduknya. Di sebelah kursiku, seorang pria berusia sekitar 20-an akhir sedang duduk menatap bosan ke luar jendela.

"Permisi mas," aku duduk dan dia menoleh diikuti anggukan kecil. Tidak ada yang spesial, di tengah perjalanan ia memperkenalkan diri dan kami mengobrol ringan. Kereta ini sangat sepi, mungkin karena belum musim liburan. Di seberang kanan kursiku, seorang lelaki paruh baya tertidur dengan koran menutupi wajahnya. Sekilas terlihat biasa saja, seolah dia hanya kelelahan dengan perjalanan yang panjang. Aku terus memperhatikannya diam-diam, bagian bawah sepatunya berlumpur dan aku tidak yakin dia benar sedang tertidur di balik korannya.

Pak tua di seberang kanan kursiku bangun, melipat korannya dan merapikan barang bawaannya; sekantong kresek hitam yang berlapis-lapis dan sedikit basah, mungkin dia kehujanan sebelum naik ke kereta ini. Beberapa menit kemudian pemberitahuan bahwa kereta akan segera sampai diumumkan. Kereta berhenti di stasiun Yogyakarta atau yang biasa dikenal warga setempat dengan nama stasiun Tugu, aku menatap pak tua dengan kening mengkerut.

Para penumpang yang tujuannya stasiun Yogyakarta berbaris keluar dari gerbong, aku pun berdiri setelah berpamitan dengan pria yang duduk di sebelahku. Dia tidak turun, masih satu stasiun lagi, katanya. Sementara pak tua, sudah terlebih dahulu keluar, sangat gesit, tidak terlihat seperti pria paruh baya lain yang gerakannya terbatas.

Aku baru saja menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam dari Bandung ke Yogyakarta, selepas menghadiri wisuda kakak keduaku di salah satu Universitas negeri di Bandung. Karena bawaanku tidak banyak, hanya satu buah ransel berukuran sedang, aku tidak langsung pulang ke kost. Aku berjalan mengitari lingkungan kost dan kampusku yang hanya berjarak 100 meter, ingin menghafal di setiap sudut isinya apa.

Baru dua bulan sejak aku memulai masa perkuliahan, jadi aku belum terlalu mengenal tempat yang ku pijaki ini. Sepanjang jalan hanya ada warung makan kecil, percetakan dan counter HP. Aku mampir di sebuah rumah makan Padang karena belum makan sejak di kereta. Seorang perempuan yang sedikit lebih tua dariku datang mengantarkan makanan,

"Mba, tutupnya jam berapa?" aku hanya bertanya, barangkali malam nanti atau besok aku ingin makan di sini.
"Jam 10 kak" dia kembali ke dapur dan aku segera menyantap makananku.

Ditinggal hanya dua hari, tentu tidak ada yang berubah dari kostku. Tapi bangunan di sebelah ternyata kini juga menyewakan kamar, terlihat dari selembar kertas bertuliskan "Terima Kost Putra" yang ditempel di bagian pagar rumah tersebut.

******

Pagi ini aku tidak ada kelas, jadi aku memutuskan untuk melihat-lihat pasar, yang jaraknya hanya satu menit berjalan kaki dari sini. Aku memang suka berkeliaran untuk mengenal lebih jauh lingkunganku, tapi teman-teman lain yang satu kostan denganku merasa kegiatan ini hanya buang-buang waktu, sehingga mereka menolak ketika ku ajak berkeliling bersama.

Jalanan terasa lembab dan beberapa lubang memiliki genangan air, sepertinya malam tadi hujan lebat. Aku sampai di pasar dalam waktu singkat, di sini, meskipun sudah disediakan kios-kios untuk disewa para pedagang, masih banyak yang memutuskan berjualan di sepanjang pinggir jalanan menuju pasar. Aku berhenti di pedagang sayur yang terlihat tua dan lusuh,

"Monggo mba" dia menyapa dengan hangat,
"Kentang yang merah setengah kilo, bu" dia lalu menimbang kentang dengan sigap dan menyerahkannya padaku. Sebelum membayar dan melanjutkan berjalan, aku bertanya
"Kenapa gak jualan di dalam bu?"
"Mahal mba sewanya, jualan saya gak seberapa"

Setelah puas melihat-lihat dan merasa kaloriku terbakar banyak, aku pulang ke kost. Ramai terlihat lelaki yang berkumpul di depan bangunan sebelah kostku. Mungkin mereka teman dari penghuni baru di situ, pikirku. Aku kemudian masuk ke kamar dan beristirahat.

Siang ini aku ada kelas pukul 14:15, tapi aku tidak terbiasa datang tepat waktu. Terlebih, jarak dari kost ke kampus hanya 2 menit berjalan kaki, jadi aku akan berangkat pukul 14:28. Apakah aku akan terlambat? tidak, karena adanya toleransi keterlambatan 15 menit yang membuat perkuliahan dimulai pukul 14:30. Aku tidak mengerti apa fungsi penambahan waktu ini, hanya membuat mahasiswa semakin tidak tepat waktu karena kuliah baru akan dimulai setelah batas keterlambatan habis.

"Kamu tau gak di depan gerbang parkiran tadi pagi ada kecelakaan?" Temanku Santi berbisik sesampainya aku di dalam kelas. Aku duduk di sebelahnya dengan bingung karena tidak mengetahui kabar tersebut.
"Kepalanya lepas, tapi badannya gak hancur. Aneh banget kan?" lanjutnya.

Pagi tadi ketika aku ke pasar, memang ada kerumunan dari arah kampus, aku pikir hanya pembeli yang sedang berbelanja karena di depan kampus pun berjejer pedangan yang menjajakan jualannya. Aku bertanya pada Santi tentang sumber informasinya,

"Tadi aku mau nemenin pacarku ke perpustakaan jam 8, tapi ketika kami sampai di depan gerbang sudah ramai orang jadi kami gak bisa masuk dan parkir."
"Kamu lihat mayatnya?"
"Pacarku turun dari motor buat mencari tahu yang terjadi dan balik-balik mukanya malah pucat, katanya ada kecelakaan. Dia langsung bawa aku ke warung kopi buat nenangin diri, di warung dia ceritain kondisi mayatnya."

Sepanjang kelas aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan bagaimana kejadian sesungguhnya dari kecelakaan tersebut. Tapi gambaran yang ku punya sangat buram, tidak ada informasi apapun selain kondisi tidak wajar dari korban. Kelas berakhir dan aku memutuskan mengantar Santi menemui pacarnya, tapi sebelum itu, aku mampir di kantin dan membeli minuman penambah ion.

"Minum ini, jangan terlalu dipikirkan apa yang kamu lihat tadi pagi." aku memberikan minuman itu pada pacar Santi yang juga temanku, Reja namanya. Dia masih terlihat shock dan tidak fokus, wajar, itu pertama kali baginya menyaksikan tubuh yang terpencar. Aku juga belum pernah melihatnya secara langsung, hanya dalam film saja, jadi aku tidak dapat berkomentar banyak ataupun memberi saran padanya.

Aku berpisah dari Santi dan Reja, bergegas pulang karena hari sudah petang. Di depan gerbang parkiran aku terhenti, masih tersisa sedikit bekas darah yang menyatu dengan aspal, ketika datang tadi aku tidak memperhatikannya karena sibuk berjalan dengan kecepatan tinggi agar tidak terlambat. Aku melihat di seberang gerbang ini ada warung makan, tanpa pikir panjang aku segera ke sana untuk mengisi perut dan kepalaku.

Warung ini sistemnya prasmanan, jadi aku mengambil sendiri piringku dan mengisinya. Aku memesan minuman pada wanita yang duduk di kasir,
"Mba, bukanya jam berapa?" aku bertanya karena memang belum pernah makan di sini, dan ingin memastikan sesuatu
"Jam 10" jawabnya singkat sambil menyiapkan minumanku, dia tidak menatap wajahku dan sibuk menghindari tatapanku. Terlihat jelas, dia tidak ingin ditanya mengenai kejadian pagi tadi yang hanya berjarak dua bangunan dari warung ini.

Setelah selesai makan aku hendak membayar makananku, namun wanita ini malah menangis. Aku bingung, tetapi tidak bertanya apapun. Membiarkannya melepaskan semua isak yang sudah ia tahan sejak pagi tadi. Pasti berat juga baginya, mengingat lokasi yang sangat dekat, ia pun pasti telah dimintai beberapa keterangan oleh kepolisian.

"Memangnya siapa yang sanggup menghadapi situasi mengerikan tadi?" aku memecah tangisnya dan ia diam menatapku.
"...bahkan temanku yang biasa keren pun mengalami shock,"
"Tapi kamu barusan makan" dia akhirnya bersuara dengan bibir bergetar.
"Aku gak ngeliat apa-apa selain sisa darah yang sudah kering di atas aspal. Aku baru ke kampus siang tadi, mba" terangku, kemudian disusul dengan tangisannya yang semakin jadi.






BERSAMBUNG

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Abadi Adalah Pak Sapardi

Patah hati bagiku, tidak selalu kamu subjeknya. Kadang melihat ketidakadilan, beberapa kali menemui yang kelaparan, dan hari ini mengetahui pak Sapardi menuju keabadian. Mencintai sajak, syair, puisi dan karya sastra lain hanyalah bagian dalam mencintai pak Sapardi. Sebelum kata 'hujan' rutin dijadikan objek sajak anak-anak 'indie' pun, pak Sapardi telah melahirkan karya yang sangat indah dan jauh dari kata alay dengan penggunaan kata 'hujan' nya. Benar-benar sangat indah nan megah. Serupa tetesan hujan yang menyapa kekasihnya pada bulan Juni, "Hujan Bulan Juni" -nya sangat damai. Apapun kata yang digunakan oleh pak Sapardi, tidak pernah gagal melahirkan keindahan. Tidak aku temui satu baitpun yang membuat mual, selalu aku berujung dengan mulut menganga karena tak dapat menebak komposisi pena pak Sapardi. Segala yang ditulisnya, adalah mahakarya. Bahkan penyair sekelas Jokpin pun terlahir karena membaca karya-karya luar biasa milknya. Kini, selamat jal...

Ijinkan Dia Kepadaku

Ada, sepasang paha yang menjadi bantalku Dia ku pinjam tanpa rasa malu Ingkari janji masa lalu untuk bertemu Aku setidak tahu diri itu Rusak, patah, hancur jalinan lamaku Impian kecilku berubah semu Yang aku tahu kini hanya rindu Atas mata hangatnya yang menatapku Nanar aku ketika tau cintanya tak hanya untukku Tapi tetap, dia mendominasi hati dan pikiranku Oleh sebab itu, ijinkan dia kepadaku. Medan,