Patah hati bagiku, tidak selalu kamu subjeknya. Kadang melihat ketidakadilan, beberapa kali menemui yang kelaparan, dan hari ini mengetahui pak Sapardi menuju keabadian. Mencintai sajak, syair, puisi dan karya sastra lain hanyalah bagian dalam mencintai pak Sapardi. Sebelum kata 'hujan' rutin dijadikan objek sajak anak-anak 'indie' pun, pak Sapardi telah melahirkan karya yang sangat indah dan jauh dari kata alay dengan penggunaan kata 'hujan' nya. Benar-benar sangat indah nan megah. Serupa tetesan hujan yang menyapa kekasihnya pada bulan Juni, "Hujan Bulan Juni" -nya sangat damai. Apapun kata yang digunakan oleh pak Sapardi, tidak pernah gagal melahirkan keindahan. Tidak aku temui satu baitpun yang membuat mual, selalu aku berujung dengan mulut menganga karena tak dapat menebak komposisi pena pak Sapardi. Segala yang ditulisnya, adalah mahakarya. Bahkan penyair sekelas Jokpin pun terlahir karena membaca karya-karya luar biasa milknya. Kini, selamat jal...