Patah hati bagiku, tidak selalu kamu subjeknya. Kadang melihat ketidakadilan, beberapa kali menemui yang kelaparan, dan hari ini mengetahui pak Sapardi menuju keabadian.
Mencintai sajak, syair, puisi dan karya sastra lain hanyalah bagian dalam mencintai pak Sapardi. Sebelum kata 'hujan' rutin dijadikan objek sajak anak-anak 'indie' pun, pak Sapardi telah melahirkan karya yang sangat indah dan jauh dari kata alay dengan penggunaan kata 'hujan' nya. Benar-benar sangat indah nan megah. Serupa tetesan hujan yang menyapa kekasihnya pada bulan Juni, "Hujan Bulan Juni" -nya sangat damai.
Apapun kata yang digunakan oleh pak Sapardi, tidak pernah gagal melahirkan keindahan. Tidak aku temui satu baitpun yang membuat mual, selalu aku berujung dengan mulut menganga karena tak dapat menebak komposisi pena pak Sapardi. Segala yang ditulisnya, adalah mahakarya. Bahkan penyair sekelas Jokpin pun terlahir karena membaca karya-karya luar biasa milknya.
Kini, selamat jalan dan selamat meletakkan pena. Benar tulisnya, kita abadi yang fana adalah waktu. Telah memberikan contoh yang sangat indah dalam menenun syair, telah menjadi panutan dalam merangkai cinta, telah mendedikasikan diri dalam kesusastraan, berterima kasih pada pak Sapardi saja, aku merasa kita tidak akan pernah cukup untuk membalas segala jasa dan kontribusinya itu.
Semoga patah hatiku hari ini tidak sia-sia, sebab pak Sapardi akan menuju chapter kedamaian baru pada perjalanannya. Damai dalam ketenangan jiwa yang tidak satupun dari kita dapat mengusik dengan pertanyaan "Bagaimana menulis seindah 'Di Restoran' ?" atau mendesaknya untuk membagikan resep rahasia "Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta".

Komentar
Posting Komentar