Langsung ke konten utama

Ijinkan Dia Kepadaku


Ada, sepasang paha yang menjadi bantalku
Dia ku pinjam tanpa rasa malu
Ingkari janji masa lalu untuk bertemu
Aku setidak tahu diri itu

Rusak, patah, hancur jalinan lamaku
Impian kecilku berubah semu
Yang aku tahu kini hanya rindu
Atas mata hangatnya yang menatapku

Nanar aku ketika tau cintanya tak hanya untukku
Tapi tetap, dia mendominasi hati dan pikiranku
Oleh sebab itu, ijinkan dia kepadaku.

Medan,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Abadi Adalah Pak Sapardi

Patah hati bagiku, tidak selalu kamu subjeknya. Kadang melihat ketidakadilan, beberapa kali menemui yang kelaparan, dan hari ini mengetahui pak Sapardi menuju keabadian. Mencintai sajak, syair, puisi dan karya sastra lain hanyalah bagian dalam mencintai pak Sapardi. Sebelum kata 'hujan' rutin dijadikan objek sajak anak-anak 'indie' pun, pak Sapardi telah melahirkan karya yang sangat indah dan jauh dari kata alay dengan penggunaan kata 'hujan' nya. Benar-benar sangat indah nan megah. Serupa tetesan hujan yang menyapa kekasihnya pada bulan Juni, "Hujan Bulan Juni" -nya sangat damai. Apapun kata yang digunakan oleh pak Sapardi, tidak pernah gagal melahirkan keindahan. Tidak aku temui satu baitpun yang membuat mual, selalu aku berujung dengan mulut menganga karena tak dapat menebak komposisi pena pak Sapardi. Segala yang ditulisnya, adalah mahakarya. Bahkan penyair sekelas Jokpin pun terlahir karena membaca karya-karya luar biasa milknya. Kini, selamat jal...

Di Ujung Hari yang Basah

Oleh : Ranyzee Kereta Lodaya berhenti di depanku, aku langsung naik berdesakan dengan penumpang lain yang sibuk mencari tempat duduknya. Di sebelah kursiku, seorang pria berusia sekitar 20-an akhir sedang duduk menatap bosan ke luar jendela. "Permisi mas," aku duduk dan dia menoleh diikuti anggukan kecil. Tidak ada yang spesial, di tengah perjalanan ia memperkenalkan diri dan kami mengobrol ringan. Kereta ini sangat sepi, mungkin karena belum musim liburan. Di seberang kanan kursiku, seorang lelaki paruh baya tertidur dengan koran menutupi wajahnya. Sekilas terlihat biasa saja, seolah dia hanya kelelahan dengan perjalanan yang panjang. Aku terus memperhatikannya diam-diam, bagian bawah sepatunya berlumpur dan aku tidak yakin dia benar sedang tertidur di balik korannya. Pak tua di seberang kanan kursiku bangun, melipat korannya dan merapikan barang bawaannya; sekantong kresek hitam yang berlapis-lapis dan sedikit basah, mungkin dia kehujanan sebelum naik ke kereta ini. Beberap...