Langsung ke konten utama

Ijinkan Dia Kepadaku


Ada, sepasang paha yang menjadi bantalku
Dia ku pinjam tanpa rasa malu
Ingkari janji masa lalu untuk bertemu
Aku setidak tahu diri itu

Rusak, patah, hancur jalinan lamaku
Impian kecilku berubah semu
Yang aku tahu kini hanya rindu
Atas mata hangatnya yang menatapku

Nanar aku ketika tau cintanya tak hanya untukku
Tapi tetap, dia mendominasi hati dan pikiranku
Oleh sebab itu, ijinkan dia kepadaku.

Medan,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setidaknya

Setidaknya dapat ku simpan, Dalam wujud kenangan. Ketika obrolan tak rela mati, Ombak tak henti-hentinya bernyanyi, Benda langit tak sengaja membumi, Tubuh menjerit menggigil, telah ku abaikan. Mencoba menjadi arloji tak ada arti, Tak ada alasan lain, tolong kau jangan suri. Mati, mati sajalah terus. Dalam kisahmu, yang dipertanyakan orang-orang.. Tanpa pernah tersingkap misterinya. Biarkan tetap rahasia. Karena aku, hanya Sally Yogyakarta

Di Ujung Hari yang Basah

Oleh : Ranyzee Kereta Lodaya berhenti di depanku, aku langsung naik berdesakan dengan penumpang lain yang sibuk mencari tempat duduknya. Di sebelah kursiku, seorang pria berusia sekitar 20-an akhir sedang duduk menatap bosan ke luar jendela. "Permisi mas," aku duduk dan dia menoleh diikuti anggukan kecil. Tidak ada yang spesial, di tengah perjalanan ia memperkenalkan diri dan kami mengobrol ringan. Kereta ini sangat sepi, mungkin karena belum musim liburan. Di seberang kanan kursiku, seorang lelaki paruh baya tertidur dengan koran menutupi wajahnya. Sekilas terlihat biasa saja, seolah dia hanya kelelahan dengan perjalanan yang panjang. Aku terus memperhatikannya diam-diam, bagian bawah sepatunya berlumpur dan aku tidak yakin dia benar sedang tertidur di balik korannya. Pak tua di seberang kanan kursiku bangun, melipat korannya dan merapikan barang bawaannya; sekantong kresek hitam yang berlapis-lapis dan sedikit basah, mungkin dia kehujanan sebelum naik ke kereta ini. Beberap...