Tak tertampik, jalanan memang penuh sampah. Hari ini, bertemu polusi lebih mudah daripada menemuimu. Tak perlu mencari kemanapun, ‘ia’ ada dimana-mana. Anak-anak rusak, terus mengendus sesuatu di balik kaos kedodorannya, kadang mereka frontal menggunakan plastik. Mengerti apa yang mereka endus, kan? Klise. Hidup di kota memang sangat keras. Tapi apa kalian mengerti mengapa mereka lebih sibuk mengendus daripada belajar? Di usianya yang masih dini, bermain pun tak lagi halal. Semua karena kerakusan si pemilik akses, tentu saja. Pernah aku dan seorang teman berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot 121 untuk pulang ke rumah. Tak lama, seorang anak dengan tubuh kurus kering dan kaos oblong khas ‘golongannya’ mendekati kami meminta uang. Angin membongkar habis rahasianya. Di atas bahu rapuh yang gemetar itu, ia simpan penyambung hidupnya. Aku terkejut dan segera memberinya uang. Namun temanku lebih merasa penasaran. “Kau dapat uang dari orang-orang, bukannya membeli makanan m...